📰 Berita & Warta Terkini
Informasi terbaru seputar perkembangan pariwisata, kegiatan daerah, dan warta Indragiri Hilir
Pasir Hasil Fosil Biota Laut Terhampar Indah di Pantai Solop
Berbicara tentang pantai di negeri ini, maka wisatawan semua pasti mengetahui berbagai macam bahkan beribu pantai yang ada di Indonesia. Mungkin juga sudah semua pantai yang pernah dikunjungi. Namun ada satu pantai yang mungkin tidak banyak yang tahu, pantai ini bernama Pantai Solop. Pantai Solop berada di Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau. Pantai ini mempunyai keunikan dan ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki pantai-pantai lain di dunia. Dimana pasir putih yang sering dikenal dengan nama Pasir Sersah terhampar di sepanjang bibir pantai. Alasan mengapa pantai ini dikenal dengan nama Pasir Sersah, sejarahnya adalah pasir putih yang terhampar di sepanjang pantai ini pasir dari fosil hewan laut, seperti kerang-kerang dan sejenisnya. Sebagaimana diketahui, fosil yang dimaksud tertimbun secara alami. Secara umum, biota laut dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu plankton, nekton dan Bentos pembagain ini tidak ada kaitannya dengan klasifikasi ilmiah, ukuran, hewan atau tumbuhan tetapi berdasarkan pada kebiasaan hidup secara umum, seperti gerak berjalan, pola hidup dan sebaran menurut ekologi. Pasir ini terbentuk melalui proses kejadian alam yang panjang dan terjadi akibat hempasan gelombang pasang surut. Hal ini menyebabkan pasir sirsak ini terdampar disepanjang kaki pantai. Pantai ini juga memiliki air yang berwarna keruh, kecoklatan. Untuk Anda yang berkunjung kesini jangan takut dengan warna air ini, warna air ini bukan karena pencemaran limbah atau tidak terawatnya daerah tersebut, warna air ini memang berasal dari laut, karna pengaruh dari pantainya yang membuat air ini berwarna kecoklatan. Selain menikmati keindahan pasir putih, anda juga dapat menikmati keindahan hutan Mangrove sepanjang mata memandang. Keberadaan hutan mangrove yang mengelilingi Pantai Solop merupakan hutan bakau terindah di Indonesia. Keindahan Pantai ini bertambah karena terdapatnya pulau-pulau kecil di seberang pantai. Pada sore hari Anda dapat menyaksikan keindahan terbenamnya matahari (sunset). "Kita dari sektor pariwisata, Pantai Solop masuk dalam satu konsep Ekowisata kawasan pesisir yang dikembangkan," kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Junaidy S.Sos M.Si kepada awak media, beberapa waktu lalu. Yang pasti, Pantai Solop adalah destinasi wisata pesisir yang dimiliki daerah Kabupaten Inhil. Selain masyarakat Inhil, Ekowisata ini juga dapat dinikmati wisatawan luar daerah, bahkan luar daerah Provinsi Riau. Untuk dapat sampai di Pantai Solop dapat ditempuh dengan menggunakan transportasi sungai maupun laut. Karena Pantai Solop terletak dibagian timur Pulau Sumatera yang merupakan jalur transportasi utama yang menghubungkan Kota Tembilahan. Dari Kota Tembilahan, untuk menuju lokasi ini dapat ditempuh melalui jalan laut sekitar 1,5 sampai 2 jam. Sedangkan dari Kecamatan Mandah sekitar 20 sampai 40 menit. Sedangkan dari Pekanbaru Anda dapat menggunakan mobil angkutan umum menuju ke Kota Tembilahan terlebih dahulu. Perjalanan dari Pekanbaru ke Tembilahan ini jarak tempuh sekitar 6 sampai 7 jam. (Sumber: Porospro.com
Sekitar 40 Km Persegi Berbagai flora dan fauna Langka khas Hutan Magrove yang Anda Bisa Lihat Hanya di Pantai Solop
Hutan mangrove tumbuh liar sekitar 40 Km persegi di kawasan Ekowisata Pantai Solop dan menjadi bagian dari seratus ribu lebih hektare hutan mangrove di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) Provinsi Riau. Terletak di pesisir timur Provinsi Riau atau tepatnya di Desa Pulau Cawan, Kecamatan Mandah, Kabupaten Inhil Provinsi Riau. Kawasan ini menjadi daya tarik alami bagi banyakbya wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang di Pantai Solop "Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Junaidy, S.Sos., M.Si, Mengatakan yang menjadi lebih spesial lagi bagi pengunjung yang datang di Pantai Solop mereka akan menemukan flora dan fauna langka khas hutan magrove yang tidak di miliki di daerah lain." Ungkapnya 28/02/21 Berjalan di antara tanaman mangrove yang tumbuh liar yang diperkirakan sudah berusia puluhan tahun ini, tentu saja mempunyai sensasi tersendiri. "Jenis flora seperti pohon teruntum bunga putih, pohon teruntum bunga merah, piyai, bakau minyak atau daek, lenggadai, kedabu, tumu, perepat, nyirih, nyirih batu, tengar dan api-api, akan sangat mudah ditemui di hutan mangrove yang terletak persisir di belakang bibir Pantai Seresah Solop." Jelas Kadis Disparporabud Junaidy, S.Sos. Terlebih lagi bagi pengunjung yang mencari suasana tenang, teduh, asri serta jauh dari kebisingan hingar-bingar kota yang membosankan. Untuk menikmati semua keindahan dan keunikan alami wisata hutan mangrove ini, para pengunjung tidak perlu khawatir dengan membayangkan hutan mangrove pada umumnya. "Karena Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) telah menyiapkan tracking kering (jerambah) atau jalan setapak dari kayu bagi wisatawan untuk menikmati hutan mangrove nan molek ini." Jelasnya Kadis Junaidy, S.Sos Dengan panjang 1500 meter, tracking kering ini membentang persis di bawah rimbunan pohon-pohon bakau alami yang tumbuh tinggi menjulang. Melalui tracking inilah, para wisatawan bisa dengan nyaman menikmati akar saling silang pohon bakau berketinggian mencapai 2 meter. Wisatawan juga bisa menikmati hutan mangrove dari ketinggian melalui menara pantau yang dibangun setinggi 12 meter tepat di tengah area hutan mangrove. Dengan ketinggian yang hampir persis dengan tingginya pohon yang ada di sana, tentu saja memberikan sudut pandang berbeda bagi wisatawan. Apalagi rimbunnya pohon di kawasan hutan mangrove ini menjadi surga bagi satwa-satwa liar, antara lain, elang bondol, elang laut, bangau tontong dan monyet-monyet yang bergelayut di pohon akan sangat mudah dijumpai di balik rerimbunan hutan mangrove. Tak hanya sampai di situ saja, sudut pandang berbeda juga tersaji melalui sungai kecil bernama Sungai Keceng yang membentang di tengah rerimbunan hutan mangrove di kawasan ekowisata Solop ini. Inilah yang dinamakan tracking basah, track alami yang memang sudah disiapkan oleh sang pencipta dan bisa dinikmati oleh wisatawan menggunakan sampan kecil (jongkong) milik masyarakat. Jika air pasang tiba, wisatawan bisa menyusuri sungai ini untuk menikmati akar tunjang mangrove yang menjurai terjuntai di kiri kanan sungai. Tidak hanya menyusuri sungai untuk menikmati keindahan alami hutan mangrove, wisatawan juga bisa menikmati dan mencoba berbagai sensasi lain di kawasan tracking basah ini. Wisatawan bisa mencoba menangkap kepiting bakau (ketam), atau juga disebut mangrove crab, mud crab yang memiliki capit atau sepit besar yang berkembang biak secara alami disela-sela akar tunjang hutan mangrove yang di kawasan ini dengan alat tangkap bernama pento. Di kawasan Ekowisata Pantai Solop ini, wisatawan juga bisa menikmati sensasi mencari lokan jenis mollusca yang kulit dan dagingnya lebih besar dari kerang dara di lopak antara rerumpunan batang piyai. Selain itu, sensasi menangkap siput borongan dan siput hisap juga menanti wisatawan, untuk selanjutnya dimasak dan dinikmati bersama-bersama sebagai menu makan siang setelah lelah menyusuri sungai Keceng ini. Di kawasan ini juga menyajikan tantangan bagi wisatawan yang memiliki hobi memancing, sehingga spot ini layak untuk dicoba. Sentakan ikan sembilang yang parasnya serupa ikan lele dengan sengat patil yang beracun akan menjadi tantangan sendiri bagi pemancing di sungai ini. Khusus bagi para pemancing yang masih penasaran, bisa keluar dari anak sungai Keceng untuk menuju Kuala Igal, Kuala Pelanduk dan Kuala Mandah untuk melanjutkan petualangan menunggu sambaran ikan senangin, kakap, kurau, senonggang, pari dan lainnya. Keindahan alami hutan mangrove yang berada di kawasan ekowisata Solop ini bisa dinikmati oleh wisatawan dengan menempuh jarak sekitar 75 menit speedboat dari Kota Tembilahan, Ibu Kota Kabupaten Inhil . Atau bisa juga ditempuh sekitar 6 jam menggunakan jalan darat dari Ibu Kota Provinsi Riau , Pekanbaru. Bagi wisatawan yang sekadar ingin istirahat dan menginap, jangan khawatir karena untuk menunjang dan memanjakan para wisatawan disediakan fasilitas gazebo dan homestay di kawasan ekowisata ini. Keramah-tamahan masyarakat setempat yang rata-rata berprofesi sebagai nelayan siap menyambut wisatawan dengan senyuman. Dengan segala keunikan dan kealamian dan keasriannya, maka tidak heran bila suasana hutan mangrove yang ada di sekitar Pantai Solop Desa Pulau Cawan membuat terkesima para wisatawan. Ia terkesan dengan keasrian hutan magrove Pantai Solop. Suasana hutan bakau yang ada di Pantai Solop, seakan-akan berada dikampung halaman sendiri. (Sumber: Bualbual.com)
Keindahan 20 Jenis Biota Laut Menanti di Perairan Pantai Terumbu Mabloe Kec Kuindra Inhil
Siapa sangka, perairan di kawasan Pantai Terumbu Mabloe di Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri (Kuindra), Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) kaya akan biota atau hewan laut. Pastinya bisa didapat oleh para wistawan. Sebab disana, termasuk penghasil laut terbesar di Negeri ‘Hamparan Kelapa Dunia’. Perlu diketahui, Biota Laut yang dimaksud merupakan semua makhluk hidup yang ada di laut baik hewan maupun tumbuhan atau karang. Secara umum, biota laut dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu plankton, nekton dan Bentos pembagain ini tidak ada kaitannya dengan klasifikasi ilmiah, ukuran, hewan atau tumbuhan tetapi berdasarkan pada kebiasaan hidup secara umu, seperti gerak berjalan, pola hidup dan sebaran menurut ekologi. 20 jenis Biota tadi termasuk Kepiting, udang, kerang dan siput yang berhasil ditangkap nelayan tempatan disana. Mereka para nelayan, hasil laut sudah dikirim kemana-mana, ke Tungkal, Provinsi Jambi salah satu contohnya. Tak kalah menarik, hasil tangkapan nelayan sebagian dikirim ke negara tetangga seperti Singapura. Selain itu, ekosistem lingkungan laut di Desa Sungai Bela masih tetap terjaga. Disamping itu, proses penangkapan Nelayan yang biasa dikenal Suku Duanu ini menggunakan jaring dengan dibantu kapal perahu berukuran sedang. Mereka pergi melaut mulai pukul 06.00 Pagi dan pulang 17.00 Sore. Kepala Desa Sungai Bela melalui Kasi Pelayanan, Rima Melati mengatakan nelayan disini pergi melaut melihat kondisi air laut sedang surut. Kata Rima, kondisi air surut biasanya biota laut sangat mudah ditangkap nelayan. "Selama ini lingkungan tetap kami jaga. Nelayan secara bertahap kami kasih pengertian agar tidak menangkap ikan menggunakan Beam Trawls, Otter Trawls, Pair Trawls, Nephrops Trawls dan Shrimp Trawls," kata Risma, belum lama ini. Sementara itu, seorang nelayan Rusli (60 Tahun) menceritakan, dalam sehari paling banyak menangkap ikan 50 Kilogram. Paling sedikit 20 sampai 30 Kilo. Sebut dia lagi, untuk jenis ikan bermacam-macam ada ikan seluang, ikan sembilang dan ikan asin. "Hasil tangkapan kami disini, kami jual ke tokeh. Sudah ada yang menampung hasil nelayan, ya kalau tidak ada uang atau ongkos kami bisa pinjam dulu ke bos (tokeh)," sebut Rusli. Berikut biota jenis ikan dari Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri. (Dok. Pemdes Sungai Bela) yakni Ikan Senangin, Ikan Gerot, Ikan Bawal, Ikan Sembilang, Ikan Perang, Ikan Lome, Ikan Beliak mata, Ikan Gonseng atau dikenal juga dengan sebutan Ikan Bulu Ayam, Ikan Belanak, Ikan Tamban, Ikan Pari, Ikan Malong, Ikan Putih, Ikan Seluang, Ikan Selar, Ikan Gulama, Ikan Kitang, Ikan Duri, Ikan Belukang, dan Ikan Parang. Sedangkan biota sejenis siput adalah Udang Tenggek, Udang Gogo, Udang Ketak atau dikenal juga dengan sebutan Udang Nenek, Kepiting Bakau, Kepiting Pasir, Kepiting Renjong, Siput Isap, Siput bintang, Kerang Lokan, dan Kerang Senteng. Setiap hari, masyarakat setempat, utamanya masyarakat dari keturunan Suku Duanu pulang-pergi menyusuri laut kawasan Tanjung Bakung, yakni posisi Pantai Terumbu Mabloe. Artinya, para nelayan ini beraktivitas masih cukup dekat dengan kawasan Destinasi Wisata tersebut. Mereka (nelayan) akan mampir ke Pantai Terumbu Mabloe jika dipanggil dengan kode isyarakat telapak tangan. Utamanya selepas mereka pulang dari aktivitas menelayan. Dan pastinya biota-biota dalam keadaan segar tertumpuk di perahunya. Inisiator Pantai Terumbu Mabloe, Hasanuddin sudah berfantasi macam-macam. Kepada awak media, selain adanya tracking menongkah, dermaga beton, dan akses jalan ke pusat pemukiman warga Desa Sungai Bela. Dia juga berkeinginan Homestay dan spot memancing. “Spot memancing itu mesti kita adakan nanti, karena laut kita kaya dengan berbagai jenis ikan yang dapat dinikmati wisatawan,” ujarnya. Terkait hal ini, Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Indraigiri Hilir (Inhil), Junaidy S.Sos M.Si merespon baik atas wacara perencanaan pembangunan penunjang Ekowisata Terumbu Mabloe. Dengan demikian, dalam waktu dekat dia akan merancang Masterplan dan Detail Engineering Design (DED) Ekowisata Pantai Terumbu Mabloe. "Berkaitan itu tentunya kita akan merancang kawasan ini sedemikian rupa, sehingga bisa lebih menarik lagi yang tentunya memberikan kenyamanan, keindahan, dan kemudahan bagi para pengunjung," paparnya. (sumber: Bualbual.com)
Akses Menuju Destinasi Wisata Terumbu Mabloe Cukup Mudah
Destinasi Wisata Terumbu Mabloe merupakan pantai dari hasil posil-posil biota laut yang tertata secara alami di bagian hilir pemukiman Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuala Indragiri (Kuindra), Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau. Ekowisata ini cukup menarik perhatian wisatawan dari luar desa setempat, khusus dari Tembilahan. Bahkan wisatawan luar daerah Kabupaten Inhil sepertinya juga mulai melirik objek wisata alam tersebut. Bagaimana tidak, destinasi wisata ini menyajikan keindahan alam dan budaya warga tempatan. Pertanyaannya, bagaimana wisatawan bisa melancong kesana? Sebenarnya, posisi objek wisata itu cukup dekat dengan pusat perkampungan Sungai Bela. Menurut perkiraan Pemdes setempat, jarak dari sisi pemukiman lebih kurang 500 meter. Hanya saja, akses daratan belum memungkinkan dikarenakan terkendala kondisi infrastruktur jalan dan jembatan. Untuk sementara waktu, satu-satunya akses adalah menggunakan transportasi laut kurang dari 5 menit dari dermaga utama Desa Sungai Bela, Kecamatan Kuindra. Untuk wisatawan dari Tembilahan, jarak tempuh agar sampai ke sana hanya membutuhkan estimasi waktu 1 sampai 1,5 jam saja dengan menggunakan Speedboat sebagai angkutan jalur laut. Speedboat yang digunakan ini merupakan angkutan laut berbahan kayu dengan mesin 200 PK. Minimal, Speedboat ukuran kecil dengan mesin 40 PK. Cukup untuk menyusuri Sungai Indragiri hingga ke muara Tanjung Bakung. Wisatawan akan merasakan sensasi perjalanan dengan iringan ombak Sungai. Pasalnya, hempasan lantai Speedboat ke permukaan air menghasilkan getaran begitu kencang. Sehingga menjadikan pengalaman yang tidak mungkin lupa. Di sepanjang perjalalan, wisatawan akan menikmati udara segar Sungai Indragiri dengan pemandangan Hutan Mangrove di kiri dan kanan, diantaranya Pohon Bakau, Pohon Pedada, Pohon Perepat, Kayu Api-api, dan spesies pepohonan lainnya. Sesekali melintasi perkampungan yang berdiri kokoh di bibir sungai. Sarana transportasi tersebut adalah tujuan khusus Tembilahan-Sungai Bela. Biasanya, biayanya minimal hanya Rp50 ribu/orang dan maksimal Rp70 ribu/orang. Sarana transportasi ini ada 3 sesi pemberangkatan dalam sehari. Sesi pertama berangkat pada pukul 12.00 WIB, sesi kedua berangkat pada pukul 14.00 WIB, dan sesi terakhir berangkat pada pukul 16.00 WIB. Artinya, wisatawan bisa berekreasi di Pantai Terumbu Mabloe tanpa menginap. Kemudian bagi wisatawan dari Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Sarana transportasi yang digunakan juga sama dari jalur laut. Jarak tempuhnya pun juga tidak begitu jauh. Estimasi perjalanan antara 3 sampai 4 jam saja. Sedikit berbeda bagi wisatawan dari Kota Pekanbaru. Sebab mereka harus menggunakan dua sarana transportasi yang berbeda. Sebelum berpindah ke sarana transportasi jalur laut tadi, mereka diharuskan menggunakan mobil terlebih dahulu. Sarana ini adalah angkutan jalur darat tujuan Pekanbaru-Tembilahan dengan estimasi perjalanan lebih kurang 7 jam, biayanya Rp150 ribu/orang. Inspirasi mengembangkan Pantai Terumbu Mabloe ini sebenarnya sudah cukup lama, kira-kira 10 tahun yang lalu yakni pada tahun 2010 oleh salah seorang tokoh warga Desa Sungai Bela yakni Hasanuddin atau yang akrab dipanggil Hasan. Hanya saja, sempat vakum beberapa tahun tanpa eksplore ke luar desa setempat. Karena memiliki potensi yang cukup tinggi, warga setempat semakin semangat mengembangkan. “Pastinya kita berupaya mengembangkan. Jika perkembangan pantai ini meningkat, saya yakin perekonomian masyarakat Suku Duanu akan meningkat, atau bahkan seluruh masyarakat Sungai Bela dan sekitarnya juga akan ikut merasakan," katanya dengan penuh keyakinan. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Junaidy S.Sos M.Si saat turun langsung ke lokasi mengaku tertarik untuk mengembangkan kawasan tersebut. Hal itu dikarenakan adanya potensi dari lumpur. Dia berkeyakinan, potensi kawasan berlumpur mampu dikombinasikan dengan hutan di sekelilingnya, sebab itu dinilai dapat menjadi daya tarik baru bagi pelancong untuk berekreasi. "Setelah melihat potensi yang ada, bagi kita di sektor pariwisata juga akan mengembangkan Pantai Terumbu Mabloe ini dalam satu konsep Ekowisata kawasan pesisir yakni mulai dari Pantai Solop, Pantai Bidari, dan pantai ini (Pantai Terumbu Mabloe di Desa Sungai Bela, red)," kata Kepala Disparporabud Inhil. (Adv) (Sumber: Porospro.com)
Pulihkan Sektor Wisata Disparporabud Inhil Siap Terapkan Program Sertifikasi CHSE
Untuk memulihkan sektor pariwisata di masa pandemi corona, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Indragiri Hilir Provinsi Riau. Siap merapkan pada program sertifikasi CHSE (cleanliness, health, safety dan environment sustainability). Progam CHSE (cleanliness, health, safety dan environment sustainability) dilakukan Sebentuk komitmen pemerintah untuk membangkitkan kondisi sektor pariwisata di kabupaten Indragiri Hilir yang terpuruk akibat corona. Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Inhil akan lebih fokus pada kunjungan wisatawan nusantara atau domestik dan lokal, sehingga sektor tersebut bisa mendapat harapan baru untuk pulih dan kembali bergerak. Dampak dari pandemi pada tahun 2020 jumlah kunjungan wisatawan mengalami penurunan tajam, Itu tidak terlapas dari ruang gerak manusia yang terbatas akibat wabah covid-19. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Provinsi Riau mencatat jumlah kunjungan wisatawan tahun 2020 di Kabupaten Kampar 273.869, Siak 12.170, Pelalawan 4.017, Kuansing 21.625, Rohul 1.852.026, Rohil 51.846, Inhu 29.181, Inhil 4.684, Bengkalis 42.983, Meranti 1.920, Kota Pekanbaru 35.262 dan Kota Dumai 54.449 wisatawan. Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan Kebudayaan (Disparporabud) Inhil, Junaidy, S.Sos., M.Si mengatakan, upaya yang dilakukan Disparporabud Inhil dalam meningkatkan kunjungan wisatawan di masa pandemi, kegiatan kepariwisataan yang dilakukan pada destinasi, produk wisata, dan industri usaha mengacu pada CHSE meliputi aspek kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan kelestarian lingkungan. "Membahas sertifikasi CHSE (cleanliness, health, safety dan environment sustainability) Tahun 2020 lalu, Pelaku pariwisata di Inhil sudah melakukan sertifikasi ini. Dan Tahun ini Kemenparekraf menargetkan untuk 6.500 orang. Semoga tahun ini di kabupaten Indragiri Hilir bisa lebih meningkat, kata Kadis Junaidy, S.Sos., M.Si. 27/02/21. "CHSE (cleanliness, health, safety dan environment sustainability) Merupakan hal yang sangat penting bagi industri pariwisata dan ekonomi kreatif untuk memulihkan kepercayaan wisatawan dan menggeliatkan kembali aktivitas pariwisata. Selain itu, untuk memberikan jaminan bahwa produk dan pelayanan yang diberikan sudah memenuhi standar dan protokol kesehatan," sambung Junaidy, S.Sos., M.Si. Lebih lanjut ia menjelaskan, Dalam mematangkan Program CHSE (cleanliness, health, safety dan environment sustainability) tersebut pemda inhil telah mengikuti rakor dengan seluruh Dispar ke 12 kabupaten/kota dan asosiasi serta Komunitas bersama bupar riau. Berdasar Informasi yang di dapat terdapat Asosiasi dan Komunitas yang terlibat diantaranya adalah, Asosiasi Perusahaan Penjual Tiket Penerbangan Indonesia (Astindo), Association of The Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita), Perkumpulan Penyelenggaraan Jasaboga Indonesia (PPJI), Masyarakat Sadar Wisata (Masata), Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Riau dan stakeholder lainya. (Sumber: Bualbual.com)
Dinas Pariwisata Melakukan Sosialisasi Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Virus Covid-19
Dalam rangka tindak lanjut pencegahan kasus penyebaran covid-19, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan Kebudayaan Kabupaten Indragiri Hilir, ikut berperan dalam menindak lanjuti penyebaran covid-19 dengan membantu pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir dalam menghimbau seluruh masyarakat untuk terus waspada terhadap penyebaran virus corona (covid-19) ini. Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan Kebudayaan, khususnya Bidang Pariwisata memberikan himbauan dan sosialisasi kepada para industri/para pelaku pariwisata di Kabupaten Indragiri Hilir. Sosialisasi kepada para pelaku wisata dan jasa akomodasi, seperti pengelola hotel, penginapan, homestay yang ada di Kabupaten Indragiri Hilir. Melalui kegiatan sosialisasi ini, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan Kebudayaan terjun langsung untuk memberikan arahan kepada setiap pengelola hotel, penginapan atau pun homestay yang berada di kota Tembilahan dan beberapa kecamatan di Inhil. Untuk wilayah kota Tembilahan akan dilakukan pemeriksaan secara berkala tentang kelengkapan alat pelindung diri (APD) sesuai protokoler penanganan Covid-19 berhubung lokasi yang dekat dan banyaknya jumlah wisma/hotel yang ada dikota tembilahan. Sedangkan salah satu daerah untuk luar daerah yang sudah dikunjugi dan diberikan sosialisasi adalah Kecamatan Keritang dan Kecamatan Kemuning yang langsung ditinjau langsung oleh kepala dinas parporabud, sekretaris parporabud, kabid bidang pariwisata, beserta rombongan. Kegiatan ini dilaksanakan agar masyarakat dapat bekerja sama dalam menangani pencegahan penyebaran virus corona (covid-19).
🏷️ Pariwisata & Budaya
Partisipasi DISPARPORABUD Dalam Memeriahkan Pegelaran MTQ Ke-49 Tingkat Kabupaten Indragiri Hilir
Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qu’ran (MTQ) Tingkat Kabupaten Indragiri Hilir ke-49 tahun 2019 yang berpusat di Terminal Bandar Laksamana Indragiri Parit 8 Tembilahan Hulu, pada tanggal 28 September 2019 dengan mengusung Tema “ Mari kita Tingkatkan Semangat dan Menyatukan Langkah Membangun Generasi Qurani Menuju Kabupaten Yang Bermarwah dan Bermartabat’. Stand Pameran dan Bazar diikuti oleh OPD, Pemerintah Kecamatan, dan sejumlah pedagang yang menjual sejumlah produk khas unggulan. Sejumlah inovasi dan produk unggulan dari masing- masing OPD dan kecamatan juga ditampilkan dalam pameran dan bazar ini. Ada 20 Stand Kecamatan dan 28 OPD, Pada MTQ Ke-49. Dinas pariwisata, Kepemudaan, dan Olahraga danKebudayaan Kabupaten Indragiri Hilir ikut menyemarakkan kegiatan MTQ dengan membuka stand yang berada didekat pintu masuk. Stand Disparporabud selain menampilkan berbagai foto destinasi dan daya tarik wisata, juga menyediakan tanjak khas melayu dan kain songket untuk dijual sebagai bagian dari ekonomi kreatif. Selain itu terdapat beberapa spot foto selfie yang berada disekitaran stand Disparporabud, diantaranya spot foto Sampan Leper, spot foto Inhil Nan Molek, spot foto air terjun 86 dan tracking mangrove Solop. Berbagai spot foto ini selalu diminati dan dipenuhi oleh berbagai kalangan mulai dari anak-anak, milenial hingga kalangan emak-emak juga ingin mengabadikan momen di pagelaran MTQ ke-59 ini. Jangan lewatkan kesempatam berfoto dengan beberapa spot foto itu, karena acara MTQ ini akan ditutup pada Kamis malam Jumat, 3 Oktober 2019. Ayooo kuuyyy... kunjungi beramai-ramai stand Disparporabud untuk mengenal lebih jauh daya tarik wisata melalui foto-foto yang dipajang di stand. Jangan lupa tag instagram kami @pariwisatainhil dengan tagar #inhilnanmolek
🏷️ Pariwisata & Budaya
Festival Sampan Leper 2019
Festival Sampan Leper atau biasa disebut dengan mendayung sampan diatas lumpur merupakan kegiatan tahunan yang rutin diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata, Kepemudaan dan Olahraga dan Kebudayaan yang dijadikan event wisata khas daerah dilaksanakan di Kuala Getek Kecamatan Batang Tuaka Kabupaten Indragiri Hilir. Sampan leper merupakan sebuah cipta karya dan inovasi orang-orang tua terdahulu dalam mengatasi masalah transportasi sungai yang harus mengikuti kondisi pasang surut. Sebuah perahu dengan ukuran 1 x 3 m dengan lantai dasar permukaan pipih dan datar hal itu disesuaikan agar dapat berjalan di atas air serta lumpur, karena indagiri hilir merupakan daerah rawa-rawa yang sering terjadi pasang surut air sungai. Festival Sampan Leper berlangsung selama dua hari dimana dilaksanakan pada tanggal 3 dan 4 Agustus 2019 dibuka langsung oleh Bupati Indragiri Hilir HM Wardan yang dihadiri Kadis Pariwisata Provinsi Riau, Fokopimda serta jajaran pejabat di lingkungan Kabupaten Indragiri Hilir. Perlomba Sampan Leper, adalah salah satu perlombaan yang cukup unik dan sulit, sebab perlombaan hanya bisa dimulai saat air sungai dalam keadaan surut dan memerlukan tenaga yang kuat menjadikan perlombaan Sampan Leper unik, Festival Sampan Leper yang dilaksanakan selama dua hari ini terdiri dari dua kategori dengan jumlah peserta lomba 23 tim peregu dan perorangan berjumlah 33 orang. Saat ini Festival Sampan Leper juga masuk dalam kategori nominasi Anugerah Pesona Indonesia Award (API) Tahun 2019 untuk Kategori Wisata Budaya Terpopuler. Bupati Indragiri Hilir HM Wardan menghimbaukan kepada seluruh masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir untuk memberikan dukungan dan partisi agar Kabupaten Indragiri Hilir meraih API Award tahun 2019 untuk Kemajuan Pariwisata Kabupaten Indragiri Hilir, dukungan dapat dilakukan melalui SMS dengan cara Ketik API (SPASI)11i Kirim ke 99386. Selain festival sampan leper pada tahun ini Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga dan Kebudayaan juga menggelar acara hiburan lomba remote control boat yang diikuti oleh komunitas inhil boat modelling club, perlombaan rc boat race yang pertamakalinya diadakan ini diikuti sebanyak 15 peserta berlangsung selama air sungai dalam keadaan pasang. Penonton dan pengunjung festival sampan leper tidak hanya dapat melihat perlombaan sampan leper dan hiburan rc boat, pada kali ini disediakan beberapa spot selfie kekinian yang bertemakan alam terbuat dari perupok dan lidi dengan latar belakang logo inhil nan molek. Festival sampan leper ditutup secara resmi oleh Sekda kabupaten Indragiri Hilir menyampaikan arahan bahwa pelaksanaan festival sampan leper ini perlu banyak daya tarik lainnya agar lebih meriah dan meningkatkan jumlah kunjungan. Saat ini, kuala Getek tidak saja hanya digunakan disaat event Festival sampan leper, dengan adanya beberapa spot selfie membuat masyarakat banyak berkunjung untuk berekreasi di sana. Maka untuk pengembangan pariwisata kedepan, Kuala Getek akan dikembangkan menjadi destinasi wisata bagi masyarakat.
🏷️ Pariwisata & Budaya
Pengembangan SDM Pariwisata Kabupaten Indragiri Hilir Melalui Kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata Budaya (Sejarah)
Pembangunan kepariwisataan membutuhkan sinergitas dan kerjasama pemangku kepentingan yaitu pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi dan media. Pembangunan kepariwisataan ini juga membutuhkan dukungan lintas sektor dari pusat sampai daerah dalam meningkatkan dan mengembangkan destinasi pariwisata sekaligus SDM pariwisata. Pada hari ini Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir melaksanakan kegiatan pelatihan Pemandu Wisata Budaya (sejarah) Dak Nonfisik Pelayanan Kepariwisataan Tahun 2019 di Hotel Inhil Pratama Tembilahan tanggal 23 sd 25 Juli 2019. pembukaan kegiatan pelatihan Pemandu dbuka secara resmi oleh Bupati Indragiri Hilir yang diwakili oleh Asisten Administrasi Umum Setda Kabupaten Indragiri Hilir, yang dihadiri oleh OPD terkait. Peserta Kegiatan Pelatihan Pemandu Wisata Budaya (sejarah) ini berjumlah sebanyak 40 orang dari berbagai desa wisata yang ada di Kabupaten indragiri Hilir dan dari komunitas Genpi, Saka Pariwisata, dan Pejuang Subuh, yang nantinya akan mendapatkan berbagai materi yang berkaitan dengan kepemanduan, budaya dan sejarah tuan guru dan site visit ke destinasi Makam Tuan Guru Syekh Abdurrahman Shiddiq, yang akan diberikan oleh narasumber yaitu Bapak Osvian Putra (Praktisi Pariwisata, HPI, dan Ketua Genpi), Bapak Heri Budiman (Aktifis Rimbang Baling) dan Bapak A. Mutholib (Sejarawan penulis buku Tuan Guru Syekh Abdurrahman Shiddiq). Melalui pelatihan ini diharapkan nantinya peserta akan mampu meningkatkan kompetensi dan keterampilan sebagai pemandu wisata budaya dan mengembangkan daya tarik wisata budaya di desa masing-masing, sehingga akan dapat mendorong percepatan pengembangan program DMIJ Plus terintegrasi.